Bogor Jawa Barat

Institute Pertanian Bogor.

Universitas Negeri Yogyakarta

Fakultas Tekhnik.

SMECDA

Kementrian Koperasi dan UKM Jakarta.

BPU UPI

Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Kamis, 26 April 2012

KONSPIRASI



"Jangan percaya Global Warming, ia adalah konspirasi industri kapital untuk menjual barang dan jasa yang ‘eco-friendly’, ‘green’, dan seterusnya.“

“9/11 itu konspirasi Amerika untuk melegalkan invasi terhadap negara-negara Islam!”

“Nusantara adalah Atlantis yang hilang, penggalan surga yang hilang, banyak emas dan piramida raksasa yang tersembunyi di dalamnya.”

“Jangan membeli ayam goreng itu, jagan memakai kosmetik merek itu, jangan memakan makanan berlabel simbol itu... itu Yahudi. Musuh agama!”

“Jangan pilih dia di pemilu berikutnya, dia antek Amerika. Dia boneka yang dikendalikan Amerika untuk mengeruk kekayaan negara kita!”

“Tidak perlu risau dengan konflik di Lampung, Bima, Palu, Papua, dan seterusnya, itu strategi makar menggulingkan pemerintah. Pasti ada yang menunggangi. Santai saja. Nanti juga reda sendiri.”

“Sepertinya tabrakan maut di Halte Tugu Tani itu hanyalah pengalih perhatian, pengubah isu agar masyarakat tak lagi peduli pada sidang skandal korupsi yang melibatkan partai penguasa negeri ini! Afriani pasti pembunuh bayaran!”

“Tak perlu naik haji karena pemerintah Arab Saudi hanya mengeksploitasi agama untuk kepentingan mereka sendiri! Ibadah haji menjadi terlalu komersial dikonversi menjadi biaya hotel, biaya catering, biaya perjalanan, dan biaya-biaya lainnya yang harganya tak masuk di akal! Ini namanya industrialisasi syari’at!”

“Bahwa rokok berakibat buruk bagi kesehatan manusia adalah kebohongan! Ia hanya konspirasi untuk memuluskan industri obat-obatan milik Barat, dan itu menghancurkan peninggalan budaya adiluhung kita! Rokok adalah kebudayaan, budaya kita!”

“Musik itu haram! Imuniasasi itu haram! Film itu haram! Itu strategi kafir untuk melemahkan generasi muda agama kita!”

“Ahmad Dhani itu keturunan Yahudi! Lagu-lagunya sesat!” (di kutip dari fahdisme)
nilah kita. Masyarakat yang setiap hari dibombardir secara massif oleh informasi, buku-buku, film, dan berbagai media lain tentang isu ‘konspirasi’, lantas menjadi begitu mudah curiga pada banyak hal: Tarekat Mason Bebas, teka-teki Atlantis yang hilang, propaganda Yahudi, intelejen Amerika, sampai harta karun Soekarno.

...dan kita yang terlarut dalam pusaran informasi tentang segala hal yang “nampak misterius”, “licik” dan “penuh teka-teki” itu lantas berubah menjadi masyarakat yang penuh kecurigaan pada banyak hal. Kita tak lagi tenang menghadapi hidup yang sesungguhnya sederhana... Kita terlanjur suka membuat ruwet hal-hal yang sesungguhnya biasa-biasa saja. Kita menjadi masyarakat pencuriga—bahkan cenderung paranoid. 

Sayangnya, kecurigaan itu juga seringkali tak dibarengi pertimbangan-pertimbangan akal sehat. Seringkali kita begitu mudah percaya atau tidak percaya pada sesuatu, tanpa dukungan logis yang memadai. Demikianlah, saat keyakinan kita buta, kita menumpulkan akal pengetahuan kita sendiri.

Nampaknya ini gejala rasa curiga yang aneh. Kecurigaan semestinya dibarengi dengan sikap waspada, dan kewaspadaan adalah refleksi dari pengetahuan dan kesadaran. Di sinilah keanehannya: kecurigaan kita pada banyak hal di saat bersamaan justru mengenyahkan kewaspadaan kita pada banyak hal, memperburuk kemampuan reflektif kita pada banyak hal. Kecurigaan kita tidak dibarengi dengan kesadaran dan kehendak untuk menemukan “nilai” dan “makna” dari segala hal yang kita curigai—padahal, seperti seharusnya, kecurigaan adalah refleksi dari rasa takut kita pada kebenaran yang ditutup-tutupi.

Namun, sungguh, kecurigaan kita tidak mendorong kesadaran dan kehendak untuk menemukan “apa yang benar” dari “apa yang salah”—menemukan yang paling jujur dan sepi dari kebohongan-kebohongan yang begitu gegap-gempita. Kita hanya “suka curiga”, semacam hobi atau kesenangan. Kita suka pada fenomena tersembunyinya kebenaran-kebenaran melalui sebuah mekanisme yang telah diatur sedemikian rupa. Lalu sudah!

Konspirasi itu keren? Ah, hell yeah, kita hanya ingin terlihat keren dengan mengetahui dan meyakini beberapa teori konspirasi.

Barangkali tulisan ini juga semacam kecurigaan tersendiri, keresahan pada fenomena menularnya rasa curiga yang tidak dibarengi dengan kesadaran dan kehendak menemukan “yang benar” tadi. Jangan-jangan teori konspirasi merupakan kebohongan yang paling besar? Bukankah manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang berlebihan? Dan, di sanalah, sepertinya teori itu berhasil menjadikan kita manusia yang mencurigai banyak hal dan merasa dibohongi oleh banyak hal, menjebak kita dengan rasa keingintahuan kita, tanpa pernah benar-benar berpikir dan menyadari bahwa kita sebenarnya memang menyukai kebohongan-kebohongan itu.

Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya sederhana saja: Hidup dan hidup-hidupilah hidup kita sebagaimana mestinya, dengan penuh kebijaksanaan dan tanggung jawab. Tak perlu terlalu risau dengan suara-suara bising yang memang sudah terlanjur bising sepanjang sejarah peradaban manusia.

Kalaupun konspirasi-konspirasi itu benar, mau apa lagi? Barangkali konspirasi adalah bagian penting dari hidup ini agar segalanya tetap berjalan menarik, menantang, dan dinamis. Dunia perlu digerakkan, manusia perlu digerakkan, dan barangkali isu dan konspirasi adalah bahan bakarnya. Hidup tanpa konspirasi barangkali adalah hidup yang tak pernah menarik untuk diteruskan.

Sisanya? Sekali lagi, tak perlu khawatir berlebihan. Makarû, wa makaruLlâh, waLlâhu khairul mâkirîn. Manusia membuat konspirasi, sebagaimana Tuhan juga membuat konspirasi. Kenyataannya: Tuhanlah pembuat konspirasi terbaik di atas segala-galanya.

Ah, ya, itu dia: mungkin saja hidup kita ini juga konspirasi, dan kita bagian penting di dalamnya. For some reason, I can't explain...

Rabu, 25 April 2012

Biografi dan Pemikiran Cak Nur

Prof. Dr. Nurcholish Madjid (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 29 Agustus 2005 pada umur 66 tahun) atau populer dipanggil Cak Nur, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. Pada masa mudanya sebagai aktifis Himpunan Mahasiswa Islam, ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005

Masa kecil dan pendidikan

Ia dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan kalam Ibnu Taimiyah.

Ide pembaharuan Islam

Cak Nur dianggap sebagai ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan di masanya, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.
Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman /ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Cak Nur, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Keyakinan tersebut sangat mungkin berbeda-beda antar manusia satu dengan yang lain, walaupun memeluk agama yang sama. Hal ini berdasar kepada kemampuan nalar manusia yang berbeda-beda, dan dalam hal ini Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama. Bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih. Cak Nur meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih adalah konsep yang logis. Manusia akan bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang ia lakukan dengan yakin. Apa yang diyakini, itulah yang dipertanggung jawabkan. Maka pahala ataupun dosa akan menjadi benar-benar imbalan atas apa yang secara yakin ia lakukan.
Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia. Pemikirannya dianggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

Reformasi 1998

Namun demikian, ia juga berjasa ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur sering diminta nasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang merupakan imbas krisis 1997. Atas saran Cak Nur, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang lebih parah.

Kontroversi

Ide dan Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatif) pada sumber ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Al-Quran dan Al-Sunnah. Gagasan Cak Nur yang paling kontroversial adalah saat dia mengungkapkan gagasan “Islam Yes, Partai Islam No?” yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1960-an, sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam. Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama.
MASYARAKAT MENURUT CAK NUR
“Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme, sebab ‘sekularisme adalah nama sebuah ideologi, sebuah pandangan dunia tertutup yang baru yang berfungsi sangat mirip dengan agama.’ Dalam hal ini, yang dimaksudkan ialah setiap bentuk ‘perkembangan yang membebaskan.’ Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islamis itu, mana yang transendental dan mana yang temporal”. (Nurcholish Madjid)
Di tengah kejumudan berpikir yang menimpa kalangan umat Islam, Dr. Nurcholish Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur, dalam pidatonya pada 3 Januari 1970, menawarkan gagasan progresifnya: “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam Dan Masalah Integrasi Umat”. Gagasan ini tak pelak menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan. Bahkan ada yang menganggap ide Cak Nur itu tak lebih hanyalah sebagai bagian dari upaya penghancuran terhadap ajaran Islam yang sudah mapan.
Realitas kejumudan di mana masyarakat masih lebur dalam euforia romantisme masa lalu, yakni berkutat dengan nilai-nilai tradisional dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral, membuat Cak Nur semakin gelisah sehingga ia memberanikan diri menerobos dinding kejumudan yang sedemikian kokoh dipertahankan oleh umat Islam. Cak Nur menegaskan pentingnya proses pembebasan di mana masyarakat harus digiring kepada nilai-nilai yang berorientasi masa depan. Proses pembebasan ini, menurutnya, mengharuskan umat untuk mengadopsi sekulariasasi, keterbukaan dan lain sebagainya.
Tanpa adanya upaya progresif semacam itu, umat Islam tidak akan mampu meneropong masa depan yang gemilang. Upaya untuk mengembalikan masa kejayaannya sebagaimana pada beberapa abad sebelumnya hanya akan menjadi utopia belaka. Bagaimana mungkin peradaban akan dibangun jika pemikiran umat Islam tidak menunjukkan sinyal pencerahan yang progresif dan dinamis. Kemudian pada sisi yang lain umat menganggap ide pembaruan yang sangat universal itu sebagai ancaman yang harus ditolak. Sehingga tidak heran kalau kemudian muncul keyakinan ekslusif yang terkesan “dibuat-buat”: “Islam sudah tidak membutuhkan pembaruan karena Islam sudah sarat dengan pembaruan itu sendiri.”
Di sinilah letak kesalahan paradigma atau pola pikir yang sedang menghinggapi sebagian besar kalangan umat Islam hingga saat ini. Realitas kejumudan tidak disadari sebagai suatu fenomena yang membahayakan masa depan umat Islam sendiri, ibarat duri dalam daging: suatu saat pola pikir semacam itu akan menghambat kemajuan dalam konteks apa pun. Karena itu, gagasan yang diusung oleh Cak Nur pada dasarnya berangkat dari semangat Al- Qur’an sebagai way of life, dengan interpretasi yang lebih menyegarkan. Bukan ide baru yang tidak berpijak pada semangat qur’ani.
Esensi Islam
Dalam upaya merealisasikan pembaruan pemikirannya, Cak Nur sampai pada sebuah kesimpulan yang menyiratkan pentingnya umat memahami esensi Islam itu sendiri. Yang terpenting bagi Cak Nur, bahwa Islam tidak terletak pada simbol atau penampakan simboliknya. Akan tetapi yang paling utama adalah bagaimana umat diarahkan kepada nilai-nilai esensial Islam yang membebaskan. Keresahan Cak Nur yang disampaikan melalui pidato lanjutannya pada 1972 di TMI ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh banyaknya parpol-parpol yang (sengaja) memakai nama Islam sebagai simbol untuk menarik dukungan sebanyak-banyaknya.
Pernyataan Cak Nur yang cukup populer: “Islam, yes; partai Islam, no!” merupakan penegasan ihwal pentingnya esensialitas keberagamaan sebagai sarana menuju yang transenden; umat harus keluar dari kungkungan simbol-simbol yang tidak membebaskan. Pada tahap ini Cak Nur mendapatkan penentangan yang cukup besar karena pemikirannya dinilai menyimpang dari mainstream yang telah dijadikan pegangan kuat oleh umat. Namun demikian, suatu pemikiran yang (dianggap) “menyimpang” bukan berarti penanda runtuhnya peradaban atau masa depan umat. Justru hal itu bisa dikatakan sebagai sinyal menuju masa depan yang menrcerahkan. “Jika ingin mengantisipasi perkembangan masyarakat masa depan, sebaiknya berpaling kepada para intelektual yang menyimpang dari arus utama.” Demikianlah menurut Ali Syariati, seorang intelektual revolusioner Iran.
Dengan demikian, apa yang telah dilakukan oleh Cak Nur merupakan sebentuk sikap antisipasi yang didasari oleh komitmen keberagamaan dalam menatap masa depan umat Islam Indonesia. sikap antisipasi itu muncul di tengah semakin maraknya umat digiring ke arah yang bersifat simbolik dan cenderung melupakan yang esensial.
Menurut Dr. Yudi Latif (2006), upaya Cak Nur dalam mengarahkan umat kepada nilai-nilai esensial Islam pada satu sisi karena kemunculan Orde Baru yang telah meminggirkan politik Islam. Dan pada sisi yang lain, kebenciannya terhadap ideologi komunisme mendorong rezim militer mempromosikan pengajaran agama. Akibatnya, saat Islam politik mandul, ketertarikan orang-orang terhadap Islam justru kian meningkat. Atas dasar itu ia sampai pada kesimpulan: ‘Islam, yes; partai Islam, No!’.
Sebagai seorang intelektual atau cendikiawan muslim Cak Nur berkali-kali melakukan pembelaan ketika Islam hanya dijadikan sebagai sarana atau instrumen politik, di mana di dalamnya sarat dengan kepentingan kelompok. Apalagi ada kecenderungan di antara parpol-parpol berlabel Islam seakan-akan memonopoli kebenaran. Sehingga tidak heran kalau kemudian terjadi konflik horisontal antarpendukung parpol atas nama kebenaran. Padahal konflik itu terjadi tidak lain hanyalah karena menyangkut kepentingan yang sifatnya politis, bukan ideologis apalagi teologis.
Karena itulah Cak Nur seringkali mempertanyakan idealisme dari parpol-parpol Islam yang dinilainya sudah tidak punya “daya tarik” lagi. Kehilangan dinamika. Dan kalau ini tetap dipertahankan, niscaya umat akan mengalami kemunduran. Kenapa demikian? Karena partai-partai Islam, baik pada tahun 1970-an atau bahkan sampai reformasi tegak, gagal membangun image positif dan simpatik. Perpecahan atau disintegrasi di kalangan umat Islam sendiri, misalnya, adalah contoh konkrit di mana partai-partai Islam tidak mampu membangun semangat kesatuan dan persatuan. Ditambah lagi dengan kasus-kasus penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh sebagian besar wakil-wakil dari partai Islam di birokrasi pemerintahan yang sampai saat ini makin marak terjadi.
Inilah sebuah paradoks keberagamaan yang lahir dari idealisme utopis. Pada satu sisi umat diarahkan untuk bernaung di bawah payung partai Islam, dan pada sisi yang lain mereka lupa meniupkan nilai-nilai keislaman sebagai nafas perjuangan. Akibatnya, dari waktu ke waktu Islam di Indonesia hanya berkembang secara kuantitas seiring dengan banyaknya partai-partai Islam yang memosisikan diri sebagai “pengemban aspirasi” umat Islam.
Sekularisasi, Bukan Sekularisme
Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme, sebab secularism is the name for an ideology, a new closed world view which funtion very much like a new religion. Demikianlah penegasan Cak Nur ketika mendapatkan banyak kritikan mengenai pembaruan pemikirannya tentang pentingnya sekularisasi.
Masih terngiang hingga saat ini suara-suara sumbang yang tidak sepaham dengan jalan pikiran Cak Nur. Sekularisasi dianggap sebagai suatu proses penerapan sekularisme. Padahal sekularisasi pada dasarnya berbeda pengertiannya dengan sekularisme. Meminjam bahasanya Robert N. Bellah, sekularisasi yang dimaksudkan adalah proses temporalisasi terhadap nilai-nilai yang memang temporal, namun oleh banyak orang cenderung dianggap transenden dan disucikan.
Seadangkan sekularisme itu sendiri adalah paham keduniawian yang menyatakan bahwa Tuhan tidak berhak mengurusi masalah-masalah duniawi. Paham tersebut mengatakan bahwa kehidupan duniawi adalah mutlak dan terakhir. Mereka tidak percaya adanya hari kemudian, di mana Islam seringkali menamakannya sebagai Hari Kebangkitan. Seorang sekularis menolak pemakaian prinsip ketuhanan dalam menyelesaikan masalah-masalah duniawi manusia. Mereka percaya sepenuhnya pada kekuatan rasio sebagai instrumen untuk menemukan kebenaran terakhir (ultimate truth). Dengan demikian, menurut pemahaman Cak Nur, bisa dikatakan bahwa seorang sekular yang konsekuen dan sempurna, adalah orang atheis. Sebaliknya, seorang sekular yang tidak konsekuen, akan mengalami kepribadian yang pecah (split personality).
Berangkat dari pemahaman di atas, maka tentu saja sekularisme bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab sekularisme membentuk filsafat tersendiri dan pandangan dunia baru yang berbeda, atau bertentangan dengan hampir seluruh agama yang ada di muka bumi ini, apalagi dengan Islam. Bahkan Al-Qur’an sendiri menggambarkan orang-orang sekularis sebagai kelompok yang kafir, mengingkari Tuhan beserta ketetapan-ketetapannya: “Mereka ( orang-orang kafir itu) berkata: ‘Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan dunia kita ini saja. Kita mati dan kita hidup, dan tidak ada sesuatu yang membinasakan kita, kecuali masa.’ Padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang hal itu. mereka hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24).
Demikianlah gambaran Al-Qur’an tentang orang-orang sekularis. Akan tetapi kita tidak bisa menyimpulkan bahwa ide Cak Nur tentang sekularisasi adalah bagian dari upaya mewujudkan nilai-nilai sekularisme itu sendiri. Sebab sekularisasi dalam perspektif Cak Nur pada dasarnya adalah suatu proses, yaitu proses penduniawian. Dalam proses itu terjadi pemberian yang lebih besar daripada sebelumnya terhadap kehidupan duniawi ini. Karena bagaimana pun kita adalah makhluk sekular, makhluk yang masih hidup di dunia.
Harvei Cox – sebagaimana dikutip oleh Cak Nur – membedakan pengertian antara sekularisasi dan sekularisme: “Bagaimana pun, sekularisasi sebagai istilah deskriptif mempunyai arti yang luas dan mencakup. Ia muncul dalam samaran-samaran yang berbeda, tergantung kepada sejarah keagamaan dan politik suatu daerah yang dimaksudkan. Namun, di mana pun ia timbul, ia harus dibedakan dari sekularisme. Sekularisasi menunjukkan adanya proses sejarah, hampir pasti tak mungkin diputar kembali, di mana masyarakat dan kebudayaan dibebaskan dari kungkungan atau asuhan pengawasan keagamaan dan pandangan dunia metafisis yang tertutup. Telah kita tegaskan bahwa sekularisasi, pada dasarnya, adalah perkembangan pembebasan. Sedangkan sekularisme adalah nama untuk suatu ideologi, suatu pandangan dunia baru yang tertutup yang berfungsi sangat mirip sebagai agama baru.”
Dengan demikian, sudah jelas bahwa ide Cak Nur tentang sekularisasi bukan dimaksudkan untuk mendakwahkan tiadanya dzat yang bersifat transendental. Akan tetapi upaya menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya.
Masalah sekularisasi dan sekularisme memang “hanya” persoalan istilah. Akan tetapi Cak Nur paham betul ihwal makna serta implikasi dari kedua istilah tersebut: sama perbedaannya antara rasionalis dan rasional; antara rasionalisasi dan rasionalisme. Karena itu, ia tidak mau disebut dirinya sebagai seorang sekularis yang berarti penganut sekularisme, atau rasionalis yang berarti pemuja rasionalisme atau kemutlakan rasio.
Sedangkan Islam hanya membenarkan rasionalitas, yaitu memfungsikan potensi akal dalam menemukan kebenaran. Itu pun harus disadari, bahwa kebenaran yang ditangkap oleh rasio bersifat relatif atau terbatas. Keterbatasan rasio inilah yang dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firmannya: “Tidaklah kamu (manusia) diberi ilmu pengetahuan (melalui rasio) melainkan sedikit saja.”(Q.S. 17: 85).
Karena itu rasionalisme, sebagaimana juga sekularisme, harus kita tolak. Karena bagaimana pun rasionalisme mengingkari keberadaan wahyu (revelation) sebagai media untuk mengetahui kebenaran yang bersifat hakiki.

PENGAKUAN


Dear............


Demikianlah, Sayangku, sejak jatuh ke dalam lubang-hitam cinta dalam matamu, sejak itu pula aku mengubah semua rencana dan cita-citaku—fahd,,,,,,,

Aku hampir tak peduli lagi pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanku di masa depan, tentang apakah ia cukup bergengsi atau bisa menghasilkan banyak uang: Aku tak lagi membayangkan kesuksesan melulu tentang hal-hal yang demikian besar sekaligus mewah. 

Barangkali aku ingin jadi musisi: Aku ingin menciptakan lagu-lagu yang tak akan pernah habis kau nyanyikan sepanjang hidupmu. Aku akan bahagia mendengarnya, Sayangku: Suara kecilmu menyanyikan lagu-laguku di dapur, di kamar, di ruang makan, di halaman belakang—sementara aku yang belum mandi memetik gitarku sambil tersenyum memandangmu menjemur pakaian, menyeduh kopi atau membersihkan lemari. 

Demikianlah, Sayangku, sejak aku jatuh cinta pada caramu berjalan, atau caramu mengantuk, atau caramu menggigit bibir bagian bawahmu, juga rambut-rambut halus yang tak begitu rapi di belakang lehermu, sejak itu pula aku selalu ingin punya mesin perekam dalam retina mataku—

Aku ingin menyimpan semua gambar tentangmu: Saat di rumah, saat liburan dan jalan-jalan, atau saat anak pertama kita menikah dan anak kedua kita diwisuda. Aku akan memasang lagu-lagu favorit kita menjadi suara latar video-video kita. Dan untuk bagian-bagian yang tak ingin aku lupakan sepanjang hidupku: Aku ingin membuatnya dalam gerak lambat. Aku akan selalu berbahagia merekamnya, Sayangku: Terutama saat aku merekam videomu dari belakang, mengabadikan langkah-langkah kakimu yang jenjang memapah langkah-langkah kecil anak pertama kita yang sedang belajar berjalan. 

Dan sejak aku jatuh cinta pada bagaimana caramu membaca, Sayangku, sejak itu pula aku belajar menulis—

Demikianlah aku mencintaimu dengan caraku yang sederhana: Sehingga ketika kau tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika akupun menjadi penulis paling berbahagia di dunia.

Selasa, 24 April 2012

Catatan 8 : Memoria

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan rambut kelimis disisirkan ibu
dan baju seragam yang agak bau keringat hari rabu

aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu 
lagu yang kunyanyikan dengan lidah cadel dan kepala agak miring ke kanan
—yang kuhafal secara lengkap hampir tanpa kesalahan

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan setiap saat dengan kaki-kaki kecil penuh semangat
mengentak lantai—meski kadang sumbang, kadang salah ketukan

aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kuiringi dengan pukulan-pukulan kecil di bangku 
sekolah yang tua dan rapuh, sambil menunggu giliran dipanggil guru 
dengan dada berdebar, seperti dada pencuri tertangkap radar

aku ingin mencintaimu seperti lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana
—yang hanya meminta dirinya dinyanyikan
: itu saja!

Catatanku 7 : KORUPSI

“Nanti kalau saya buka semua, bubar republik ini!” –M. Nazarudin, tersangka kasus korupsi Wisma Atlet, mantan bendahara umum Partai Demokrat.

Tuan, ambillah segala yang kami punya untuk membuatmu kaya raya: Tapi, demi Tuhan, kerakusan tak akan pernah memberimu kebahagiaan. Banggakanlah segala yang kaukira milikmu dan selamanya akan selalu bersamamu: Tapi, demi Tuhan, kesombongan tak akan pernah memberimu kemuliaan!

Maka, Tuan, bangunlah tembok-tembok untuk melindungi kekuasaanmu, datangkanlah penjaga-panjaga dengan kelihaian paling gila di dunia, dan berusahalah tidur dengan nyenyak! Sebab malam ini, kami akan mendatangimu membawakan mimpi paling buruk dalam hidupmu—

Segera, bangunlah apa saja untuk bertahan; meski kami akan selalu menjadi lebih tinggi untuk melampauinya, lebih kuat untuk menghancurkannya. Bayarlah semua bajingan; dan kami akan menaklukkannya. Perintahkanlah ribuan pasukan bersenjata; di jalan-jalan, mereka akan mendengar langkah kami berderap, bergemuruh untuk membuat lutut mereka jadi lumpuh. Larilah sejauh mungkin; kami akan selalu menemukan tempat persembunyianmu! 

Maka berdoalah, Tuan, semoga Tuhan masih mau mendengarkan kemunafikanmu… 

Sejenak, kini tariklah napas. Dan sekalah keringat. Di sini, kami masih menunggu, Tuan: Dalam lapar dan tubuh yang gemetar, melihatmu tertawa untuk sementara, membangun rumah atau memamerkan apa saja yang mewah. 

Tapi jika saatnya tiba: Kami akan melompat dari dalam mimpimu, membawakan apa saja yang selama ini menjadi ketakutanmu! Ketakutan yang, Demi Tuhan, akan membuatmu menangis sepanjang hidupmu: Sehingga ketika saatnya tiba engkau tak bisa lagi tertawa, kamipun berbahagia untuk selama-lamanya! fahd

Catatanku 6 : Manifesto

Ada saatnya kita harus lari dari segala rutinitas penuh kemunafikan yang menekan. Ada saatnya kita harus melepaskan ketakutan-ketakutan, juga topeng-topeng kepura-puraan: buktikan siapa diri kita sesungguhnya! 

Ada saatnya orang lain harus tahu bahwa kita juga bisa meledak—menciptakan tabrakan pesawat paling gila atau sakit gigi tak berkesudahan di dada dan kepala orang-orang yang selama ini begitu pongah menganggap kita tak berdaya dan tak mungkin melawan. Ada saatnya kita harus kembali mencuri semua kebahagiaan kita sendiri yang selama ini dicuri. Ada saatnya... Kita akan berlari, atau terbang, atau tertawa tanpa suara, merayakan kemenangan-kemenangan kita yang tertunda!

Maka, demi kegilaan yang terlalu lama kita musuhi, demi masa kanak-kanak yang terlanjur kita sia-siakan, demi pubertas remaja kita yang tak sempat dirayakan: sejenak pejamkanlah matamu, temukanlah api di dalam dadamu, nyalakanlah nyalimu… Bakarlah segala yang mengganjal—singkirkan semua barikade yang menghalangi cahaya, kebahagiaan, juga cinta untuk mendekap anak kecil pemurung di dalam hatimu!

Lalu, bukalah matamu: INILAH SAATNYA!

Catatanku 5 : Aku dan Kehidupan Spritual Keluargaku






Saya berasal dari keluarga peziarah. Kami menziarahi makam-makam orang yang sudah meninggal, terutama keluarga kami—para leluhur yang mewariskan gen kehidupan bagi hidup kami. 

Tentu saja di sana ada polemik; Sebagian dari kami menganggap ziarah adalah ritual yang tidak perlu sebab tidak diajarkan dalam agama, sebagian lain menganggap ziarah hanya merupakan tindakan kuno yang tak memiliki visi masa depan yang jelas dan cenderung buang-buang waktu. Anggota keluarga kami yang NU, Muhammadiyah, atau Persis sering berdebat soal bagaimana hukum ziarah ini dalam Islam… Dalil-dalil keluar seperti mereka tidak akan pernah mati… Tetapi pada akhirnya semua anggota keluarga kami tak bisa mendebat kesimpulan nenek: Ziarah adalah momen menengok perasaan orang-orang yang kita sayangi. 

Tidak ada yang berani mendebat nenek. Toh, agama memang tak pernah melarang kita untuk menengok perasaan orang-orang yang kita sayangi, kan? Di sanalah baru saya mengerti: makam memang bukan sekadar tempat mengubur jasad orang yang sudah meninggal. Lebih dari itu, makam adalah tempat menjaga perasaan orang-orang yang kita sayangi. 

Di hari lebaran atau hari-hari lainnya, jika kami berziarah ke makam kakek, kata nenek, meskipun kami ke sana untuk mendoakan kakek, sesungguhnya memang tidak ada hubungannya dengan ajaran agama: Doa adalah simbol bagi kasih sayang. Paling tidak, masih kata nenek, karena dulu kakek mengajarkan nenek berdoa, dan nenek mengajarkan anak-anaknya berdoa, dan kemudian turun sampai ke cucu dan cicitnya… Mendoakan kakek di makamnya barangkali semacam berterima kasih: Terima kasih, Kakek. Kalau tidak ada kakek, belum tentu kami bisa berdoa.

Bukankah mendoakan bisa di mana saja? Bukankah Tuhan Maha Mendengar dan semua doa akan sampai? Itu benar, nenek juga selalu mengajarkan itu, “Doakan kakek di mana saja, tidak perlu di makamnya,” katanya. Tapi jika salah satu dari anggota keluarga kami ada yang tidak pergi ke makam, misalnya di hari lebaran, nenek biasanya akan marah atau sekurang-kurangnya kesal. “Biarkan, nanti dia tahu sendiri! Tapi kalau kamu mau hidup sukses dan bahagia, hormati perasaan orang-orang yang menyayangimu.” Saya masih ingat nasihat itu—

Tentu saja saya bertanya-tanya: Apa hubungannya hidup bahagia, tercapai cita-cita, sukses, dengan makam kakek? 

Entah bagaimana caranya, sepertinya nenek tahu apa yang saya pertanyakan. “Kakekmu bekerja keras banting tulang siang-malam karena ingin anak-cucunya hidup sukses dan bahagia,” kata nenek waktu itu.

Saya mengangguk. Ya, itu dia, cita-cita kakek telah berubah menjadi ‘perasaan’—dan perasaan selalu memiliki kekuatan jauh lebih dahsyat dari sekadar cita-cita.

Kalau kamu setuju dengan cita-cita kekek, teruskan. Rawat perasaan dan impian kakek sebagai perasaan dan impianmu sendiri.

Saya tersintak! Itu dia yang saya lupakan: Visi sukses saya tentang masa depan tak pernah berpijak pada akar yang kuat. Tentu saja, bagaiamana saya akan memiliki akar yang kuat jika saya tak mengerti perasaan kakek tentang ‘masa depannya’—masa kini ayah saya, saya, dan kami semua!? 

Sejak saat itu, ziarah bagi saya bukan lagi ritual menengok jasad mati yang terbaring tak berdaya, tetapi momen kebangunan untuk melanjutkan hal-hal besar yang belum selesai dicapai oleh mereka yang telah tiada. Jika saya menghormati perasaan kakek, tentu saya akan melanjutkan perjuangannya dan mewujudkan impiannya. Di sana, dalam ziarah, ternyata sesungguhnya saya tidak sedang sepenuhnya mendoakan kakek, tetapi juga sekaligus mendoakan saya sendiri! 

Demikianlah, selama ini barangkali kita terlalu egois dengan cita-cita dan rencana bahagia kita sendiri—seraya melupakan perasaan orang-orang yang selama ini menyayangi kita. Dan, ah ya, setiap orang sesungguhnya punya impian dan cita-cita yang ingin diwujudkan. Bedanya, ada orang-orang yang berhasil mencapainya selama mereka hidup, ada yang tidak sanggup mencapainya dan berharap agar anak atau cucunya bisa meneruskan perjuangannya—seperti kakek saya. Tentu saja kita berharap bisa menjadi golongan yang pertama, tetapi jika Hidup tak mengizinkannya dan kita terpaksa harus menjadi golongan yang kedua: semoga anak dan cucu kita kelak menjadi orang-orang yang menyayangi dan menghormati perasaan kita. 

Saya masih ingat nasihat itu, kali ini ayah yang menyampaikannya, “Kata kakek, di masa depan manusia hanya akan dibedakan menjadi tiga golongan: orang sukses, orang gagal, dan orang yang sudah meninggal. Semua orang akan menjadi golongan ketiga, tetapi golongan pertama dan kedua sangat ditentukan oleh perjuangan.

Ah, malam ini, mungkin saya memang harus menyanyikan lagi lagu dari My Chemical Romance dengan penuh penghayatan, Welcome to the Black Parade