Bogor Jawa Barat

Institute Pertanian Bogor.

Universitas Negeri Yogyakarta

Fakultas Tekhnik.

SMECDA

Kementrian Koperasi dan UKM Jakarta.

BPU UPI

Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Sabtu, 12 Mei 2012

Buah "Mangga" Unggulan Indramayu

1. Mangga Harum Manis


Jenis Mangga harum manis berasal dari , dari Indramayu. Walau tergolong buah lokal namun buah ini sangat laku di pasaran baik didalam negeri maupun pasar luar negeri, mangga ini disebut mangga harum manis memang karena rasanya manis dan berbau harum.  Kisaran Harga Tiap kali panen : Rp. 6000,-/Koligram 
2. Mangga Cengkir
Mangga satu ini memang khas Indramayu, didaerahnya mangga ini dikenal sebagai mangga Cengkir (pelem cengkir) berukuran besar dan memiliki serat buah yang khas. mangga cengkir khas indramayu. Indramayu dikenal juga dengan sebutan “Kota Mangga’ di jawa barat Indonesia, karena mangga indramayu terkenal dengan rasanya yang manis dan empuk. Belum diketahui kenapa buah mangga dari indramayu ini lebih enak daripada buah mangga dari daerah lain di Indonesia, mungkin di karenakan geografis indramayu itu sendiri yang tropis dan panas, sehingga bisa menghasilkan buah mangga yang rasanya tidak ada tandingannya dengan mangga dari daerah lainnya. 
Kisaran Harga Tiap kali panen : Rp. 6000,-/Koligram



3. Mangga Gedong Gincu






Mangga gedong gincu berasal dari daerah Indramayu, jawa barat. Ciri khas mangga ini adalah warna kulit serta daging buahnya kuning kemerahan dan tampak mencolok. Karena warnanya, mangga ini cukup laku di pasaran luar negeri. Buahnya berbentuk bulat tanpa lekukan dengan kulit tipis. Daging buah cukup tebal, berwarna kuning kemerahan dan berserat halus. Rasanya manis dan aromanya harum. Ukuran buahnya tergolong sedang, panjangnya antara 10-12 cm, dan berat rata-rata 200 g/buah. Mangga gedong gincu yang matang dapat tahan selama 5-7 hari dalam masa penyimpanan. Selain dikonsumsi segar, mangga gedong gincu banyak digunakan sebagai bahan baku industri sari buah.



4. Mangga Golek






Mangga golek, Jenis mangga lokal asal Probolinggo dan Pasuruan dan di kembangkan di petani mangga indramayu ini namanya sudah sangat tenar. Menteri Pertanian sudah melepas mangga ini sebagai varietas unggul. Buah mangga ini bentuknya panjang, ujungnya meruncing, dan tak berparuh. Warna buah muda hijau, sedangkan yang tua berwarna kuning pada pangkalnya dan kehijauan pada ujungnya. Kulit tidak begitu tebal, halus, dan terdapat bintikbintik kelenjar yang berwarna putih kehijauan dan berubah menjadi cokelat setelah buah tua. Dagirig buah tebal, berwarna kuning tua, lunak, tak berserat, dan jika diiris tidak banyak mengeluarkan air. Rasanya sangat manis dan aromanya harum tajam. Panjang buahnya 17 cm dengan berat kurang lebih 500 g. Produktivitas rata-rata per pohon sekitar 52 kg.\
Harga Kisaran Tiap kali panen : Rp. 6800,-/Kilogram



5. mangga Manalagi






Jumat, 11 Mei 2012

KH SALEH LATENG BANYUWANGI Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Banyuwangi sebagai salah satu basis masyarakat santri di Tapal Kuda (pesisir timur pulau Jawa) menyimpan berbagai kisah heroik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Dan sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kekuasaan, Banyuwangi menyimpan kharismanya sendiri. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesaktian para kyainya. Salah satu di antara kyai-kyai sakti tersebut adalah KH Saleh Lateng, salah seorang pendekar sakti keturunan raja-raja Palembang Sumatera.

Sejarah Keluarga
Pada kisaran perempat perteama abad ke-19, Kerajaan Palembang Darussalam telah kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Sultan Najamuddin dibuang oleh Belanda ke Banda Aceh dan pemerintahan palembang dikendalikan oleh seorang Residen Belanda. Banyak para bangsawan menyingkir keluar daerah, salah satunya adalah Kiagus Abdurrakhman, kakek Kyai Saleh Lateng. Kiagus Abdurrakhman ini kemudian menetap di Sumenep dan menikah dengan seorang perempuan setempat bernama Najihah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Namun hanya seorang yang kemudian meneruskan silsilah keturuanan, yakni Kiagus Abdul Hadi –ayahanda Kyai Saleh, yang kemudian pindah dan menetap di Banyuwangi. 

Terlahir di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278 H. bertepatan dengan 07 Maret 1862 M. dengan nama Kiagus Muhammad Saleh. Ibunya berasal dari Panderejo Banyuwangi bernama Aisyah. Nama Kyai Saleh ini yang terkenal selama hidup hingga sepeninggalnya. Meski setelah berhaji, namanya berganti menjadi H Muhammad Syamsuddin, namun dalam keseharian Beliau selalu menuliskan namanya dengan Saleh saja. Dengan demikian ia tetap dikenal oleh masyarakat sebagai Kyai Saleh saja.

Banyuwangi pada masa kecil Kiagus Muhammad Saleh berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, baik dari sisi material maupun secara spiritual. Rakyat miskin akibat penjajahan dan suasana pertengkaran antar kelompok masyarakat menjadikan suasana semakin menakutkan.Gank-gank yang terbukti tidak berdaya melawan kekuatan asing, saling terlibat permusuhan dan pertikaian untuk menaikkan gengsi pribadi dan golongan. Belum lagi hasutan politik adu domba Belanda yang menjadikan kondisi ini terus berlarut-larut. 

Kendati terlahir di tengah kemerosotan moral masyarakat, namun masa kecil Kiagus Muhammad Saleh dilalui dengan cara-cara sangat islami. Sedari kecil Muhammad Saleh belajar mengaji kepada ibu dan bapaknya, serta lingkungan keluarganya. Pada usia remaja Saleh mulai belajar mengaji ke luar daerah. Pada usia 15 tahun, Saleh mondok di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian, ia meneruskan pelajarannya ke Bangkalan Madura, kepada Kyai Kholil. Di Bangkalan ini, Saleh menjadi khodim (pelayan) Kyai Kholil. Termasuk bersedia menemani anak Kyai kholil, Hasan mencari uang, untuk keperluan berangkat Haji. 

Selama di bangkalan ini pula Saleh belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu-ilmu kesaktian yang kelak akan digunakan secara langsung untuk memperbaiki masyarakatnya. Selain di Bangkalan, Saleh juga meneruskan pencarian ilmunya hingga ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana, Bali.  

Selepas menuntut ilmu di Bali, Saleh bertekad meneruskan pelajarannya ke Tanah Suci. Saleh menghabiskan masa belajarnya di Mekkah selama enam tahun sebelum diminta pulang oleh gurunya, Kyai Kholil Bangkalan. Kala itu, selain belajar, Saleh juga telah mengembangkan ilmunya kepada para pelajar lainnya di sana. Saleh telah membuka pengajian di Mekkah dengan menggunakan empat bahasa. Namun Saleh meminta waktu satu tahun lagi untuk Belajar di sana. Permintaan ini pun diijinkan oleh gurunya tersebut. 

Setahun kemudian, kira-kira tahun 1900 M. sekitar umur 38 tahun, Kiagus Saleh kembali ke kampung halamannya di Banyuwangi. Kiagus Saleh kemudian menetap di kampung Lateng Banyuwangi, dan selanjutnya terkenal sebagai Kyai Saleh Lateng. Kyai Saleh secara resmi mendapatkan ijin mengajar di langgarnya di Lateng dari Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro pada 4 Maret 1909 M. Dari sinilah Beliau mulai mengabdikan dirinya untuk perbaikan kualitas masyarakat Banyuwangi. Sedikit-demi sedikit, wilayah dakwahnya semakin meluas hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi.

Dalam pengajaran kepada murid-muridnya, Kyai Saleh Lateng sangat menjunjung sikap tegas terhadap penjajahan. Ia sering berpesan kepada santri-santrinya untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kyai Saleh juga mengajarkan kesaktian-kesaktian yang dipelajarinya sejak mondok di Bangkalan. Dengan demikian, murid-murid Kyai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang taat beribadah. Melainkan juga para jagoan dan bromocorah-bromocorah setempat yang ingin menambah kesaktian. Sehingga banyak sekali algojo dan tanjak seblang di seluruh wilayah Banyuwangi yang menjadi santrinya.

Dari sinilah kemudian Kyai Saleh lateng muncul sebagai tokoh pemersatu masyarakat Blambangan. Kelompok-kelompok yang tadinya bertikai, mulai disatukan dengan alasan sesama murid dari lateng dilarang saling bermusuhan. Lambat laun para jagoan lokal dan para penyamun jalanan mulai menghentikan operasinya, karena mematuhi perintah Kyai Saleh Lateng. Semboyan “satu guru jangan saling mengganggu” rupanya mampu meredam perpecahan di antara masyarakat Banyuwangi kala itu. Sebagai sesama murid Kyai Saleh Lateng, mereka mulai menghentikan pertikaian dan permusuhan. 

Kepada masyarakatnya, Kyai Saleh sangat mengayomi dan membuka konsultasi seluas-luasnya. Mengedepankan saling silaturrahim dan mendamaikan mereka yang sedang terlibat pertengkaran. Dengan demikian berangsur-angsur terbangunlah persatuan dan kesatuan Banyuwangi.

Kehidupan Keorganisasian
Sebagai salah satu tokoh kunci persatuan masyarakat Banyuwangi, Kyai Saleh memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), terutama di Wilayah Blambangan. Demi menyambung perjuangan keagamaan dan perjuangan kemerdekaan pada taraf yang lebih luas, Kyai Saleh bergabung dengan para ulama dari daerah lain. Baik melalui jaringan pertemanan sewaktu masih menjadi santri di Surabaya dan Madura maupun jalinan persaudaraan dengan teman-temannya selama menuntut Ilmu di Tanah Suci. 

Dalam berorganisasi, Kyai Saleh Lateng bergabung dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1913 Beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di Kawedanan Glenmere Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H. bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. bersama dengan tokoh-tokoh ulama Nusantara lainnya, Kyai Saleh Lateng juga merupakan salah seorang yang naik di atas panggung (podium) untuk turut memberikan kontribusi dan dukungan pada pertemuan Komite Hijaz. 

Pada hari yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Nahdlatul Ulama ini, Kyai Saleh Lateng ditunjuk oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama.  

Sikap Anti Penjajahan
Dalam mendidik para santri dan masyarakatnya untuk menentang penjajahan, Kyai Saleh Lateng bersikap keras. Beliau memilih sikap konfrontatif hingga melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah penjajahan. Kyai Saleh melarang keluarga dan para santrinya untuk memakai celana, melepas Kopyah dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Belanda. Kyai Saleh juga mengutus beberapa anaknya ke medan perang gerilya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kyai Saleh aktif mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Indonesia melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dan surat kabar. Hal ini dilakukan untuk mengecek keberadaan santri-santrinya yang sedang dikirim ke garis depan pertempuran dan medan gerilya. Kyai Saleh menyokong perjuangan bersenjata melalui dukungan dana dan doa kepada santri-santrinya yang akan dikirim ke medan laga. 

Karena tindakan-tindakannya membantu perjuangan kemerdekaan, Kyai Saleh juga sempat menghadapi kejaran Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng ke Pakistaji. Di sinilah, Beliau bertemu dengan salah seorang anggota pasukan yang pernah dipimpinnya. Anggota pasukan ini juga sedang di kejar-kejar oleh intel Belanda. Kyai Saleh pun kemudian menolongnya. Anggota inilah yang kemudian menceritakan bahwa sebenarnya, Kyai Saleh Lateng terlibat secara langsung di garis depan ketika memimpin sepasukan laskar rakyat dalam penyerbuan terbuka (saat berkumandangnya Resolusi Jihad) ke Surabaya.

Kyai Saleh lateng juga termasuk orang yang sangat tegas dalam menolak kompromi dengan pemerintah penjajah. Pernah pada masa-masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia, Kyai Saleh ditawari oleh bantuan oleh Belanda untuk pembangunan pesantrennya. Bahkan konon, Van Der Plass sendiri yang datang menemui Beliau. Namun bantuan ini ditolak mentah-mentah oleh Kyai Saleh.  

Kyai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal awal kementrian Republik Indonesia. Menurut cerita, suatu ketika, Menteri Agama Republik Indonesia pertama KHA Wahid Hasyim mencari kitab yang akan digunakan sebagai pedoman pembentukan organ kementrian. Konon menteri agama mencarinya ke seluruh pondok pesantren kenalannya, namun belum juga menemukannya. 

Maka KHA Wahid Hasyim kemudian mengutus seorang kurir untuk menanyakannya kepada Kyai Saleh Lateng yang pada waktu itu masih berada di tempat persembunyian di Pakisaji Kabat. Kurir tersebut meminta dengan membeli atau mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kyai Saleh Lateng pun kemudian memberikan kitab bernama Mu’jamul Buldan tersebut dengan bersedia menerima separo harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan Kyai Saleh Lateng dalam pembangunan organ Departemen Agama Republik Indonesia.  

Kehidupan Bermasyarakat
Sebagai seorang ulama yang telah dididik dalam norma-norma agama yang kuat, baik di lingkungan keluarga maupun di pesantren, Kyai Saleh selalu mengamalkan prinsip-prinsip pergaulan islami dalam bermasyarakat. Beliau memiliki sikap yang tegas dan berani dalam menyatakan kebenaran dan keadilan. Bahkan meski sering hal tersebut dianggap merugikan. 

Sifat budi baik lainnya adalah, Kyai Saleh tidak memilih-milih dalam pergaulan kemasyarakatan. Beliau banyak memiliki santri dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat santri yang taat maupun dari kelompok keluarga para bromocorah. Termasuk pula, Kyai Saleh tidak membeda-bedakan tingkat ekonomi para muridnya. Kyai Saleh tidak membedakan antara santri anak orang kaya, pejabat dan rakyat miskin kebanyakan.

Sebagaimana umumnya para ulama, Kyai Saleh sangat gemar membaca al-Qur’an ketika sedang sendirian dan sedang tidak mengajar santri. Kyai Saleh juga senantiasa mentradisikan pengadaan peringatan-peringatan hari besar Islam. Termasuk peringatan Haul gurunya, Kyai Kholil Bangkalan.

Kebiasaan-kebiasaan amar ma’ruf nahi mungkar dan disertai dengan keteladanan dalam mentradisikan kebajikan serta tolong-menolong antar sesama senantiasa melekat dalam diri Beliau, hingga akhir hayatnya.

Kyai Saleh Lateng berpulang ke Rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 29 Dzulqo’dah 1371 H. bertepatan dengan 20 Agusrus 1952 dalam usia 93 tahun. Atas Izin bupati Banyuwangi, Usman, maka jenazahnya disemayamkan pada jarak kurang lebih sepuluh meter di sebelah selatan langgar, tempat Beliau biasa memberikan pengajian kepada santri-santrinya. 

Dan untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka pada tahun 1956 DPRD Kabupaten Banyuwangi menyepakati adanya seruas jalan dengan nama Jalan Kyai Saleh Lateng. Meski jasad Kyai Saleh Lateng telah tertimbun di tanah, namun jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh masyarakat, dan perjuangannya akan senantiasa dilanjutkan oleh santri-santri penerusnya. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan melimpahkan rahmat untuk kemuliaan ruhnya. Amin Wallahu A'lam bisshowab. (Disadur dari buku Biografi Kyai Saleh, karya H. Abd, Manan Syah). Syaifullah Amin

Kamis, 10 Mei 2012

K.H Asnawi Kudus

Kudus adalah daerah yang terkenal dengan nama kota Kretek dan kota Santri dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kota ini dibangun oleh Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) dengan rentetan historisitas yang berpusat pada kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak). Hal ini ditengarai dari inskripsi batu nisan yang ada di atas mihrab Masjid al-Aqsha Menara Kudus.


Di belakang Masjid al-Aqsa Menara Kudus inilah, di Komplek Makam Sunan Kudus, hampir selalu ada saja yang mengaji. Baik yang dengan tujuan untuk berziarah, maupun santri yang niat tabarrukan agar diberi kemudahan dalam berbagai urusan. Di antara deretan nisan di komplek makam tersebut, terdapat makam KH Raden Asnawi. Salah seorang ulama keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati.

Kelahiran Pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran lahir seorang bayi yang diberi nama Raden Ahmad Syamsyi. Putra dari pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah ini lahir di sebuah rumah milik Mbah Sulangsih. Tempat tinggal Mbah Sulang begitu ia akrab disapa menjadi ramai didatangi oleh sanak saudara dan tetangga sekitar lantaran kelahiran anak pembarep. Sudah menjadi tradisi masyarakat Kudus, setiap ada babaran (melahirkan bayi), tetangga ikut merasakan bahagia dengan menjenguk ibu dan anak yang dilahirkan. 

H. Abdullah Husnin terkenal seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Memang sudah menjadi hal yang lumrah, rata-rata penduduk di desa ini mempunyai penggautan (kerja) di bidang konfeksi. Potensi ekonomi masyarakatnya mengandalkan kreatifitas memproduksi kain menjadi pakain, kerudung, rukuh, dan lain sebagainya.

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pelajaran agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Kemudian semenjak usia 15 tahun, pada kisaran tahun 1876 M. orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang pagi hingga siang. 

Keinginannya mencetak putra sholih mengantarkan Husnin untuk mengikutsertakan Syamsi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Waktu mengaji adalah sepulang dari berdagang mulai sore hingga malam. Tidak diketahui apa kitab yang ditekuni kala itu. Selain mengaji di Tulungagung, Ahmad Syamsi kemudian melanjutkan mengaji kepada KH. Irsyad Naib Mayong, Jepara. 

Pergantian Nama dan Mengajar AgamaSewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. 

Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR. Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas. Pergantian nama sepulang dari tanah suci sudah menjadi hal yang wajar, namun nama Ilyas juga tidak menjadi nama hingga wafatnya. Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya. 

Selanjutnya nama Asnawi ini yang menjadi terkenal dalam pengembanagan Ahlussunnah Waljama’ah di daerah Kudus dan sekitarnya. Dari sinilah kharismanya muncul dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kiai. Sehingga nama harum yang dikenal masyarakat luas menyebut dengan Kiai Haji Raden Asnawi (KHR. Asnawi).

Sebagaimana lazimnya, sebutan Kiai ini tidaklah muncul begitu saja, atau dedeklarasikan dalam sebuah peristiwa, namun ia diperoleh melalui pengakuan masyarakat yang diajarkan agama secara berkesinambungan sejak KHR. Asnawi berumur 25 tahun. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh. 

Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam.

Kegiatan tabligh KHR. Asnawi untuk menyebarkan akidah Ahlusunnah wal Jamaah tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora. 

Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.”  Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syi'ir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.

Mukim di Tanah SuciDi Makkah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.

Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan. 

Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".

Madrasah, Masjid Menara dan Penjara
Saat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H. Di mana KHR. Asnawi dan kawan-kawannya terpaksa menghadapi tantangan kaki tangan kaum penjajah Belanda yang menghina Islam. 

Di tengah-tengah umat Islam bergotong royong membangun Masjid Menara siang malam, orang-orang Cina malah mengadakan pawai yang akan melewati depan Masjid Menara. Para Ulama dan pemimpin-pemimpin Islam pun mengirim surat kepada pemimpin Cina, agar tidak menjalankan pawai lewat depan masjid Menara, karena banyak umat Islam yang melakukan pengambilan batu dan pasir pada malam hari.

Permintaan itu tidak digubris. Pawai tetap digelar. Ironisnya, dalam rentetan pawai itu, juga menampilkan adegan yang sangat menghina umat Islam. Di mana ada dua orang Cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul seorang wanita yang berpakaian seperti wanita nakal. Orang awam menyebutnya Cengge. Pawai Cina yang datang dari depan masjid Manara menuju selatan, itu pun berpapasan dengan santri-santri yang sedang bergotongroyong mengambil pasir dan batu dengan grobak dorong (songkro). Kedua pihak tidak ada yang mengalah. Hingga terjadi pemukulan terhadap seorang santri oleh orang Cina.

Pemukulan terhadap salah seorang santri ditambah adanya Cengge itulah, insiden Cina-Islam di Kudus yang dikenal dengan huru hara Cina, terjadi. Ejekan dan hinaan dari orang-orang Cina terus saja terjadi. Hingga orang-orang Islam terpaksa mengadakan perlawanan. Para Ulama memandang beralasan untuk mengadakan pembelaan, namun tidak sampai pada pembunuhan.

Ironisnya, dalam insiden tersebut, ada pihak ketiga yang mengambil kesempatan untuk mengambil barang-barang orang Cina. Dan tanpa sengaja, menyentuh lampu gas pom yang menimbulkan kebakaran beberapa rumah, baik milik orang Cina maupun orang Jawa.

Kejadian inilah yang berbuntut penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun. 

Tidak sekali saja KHR. Asnawi di penjara. Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi  sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Pun pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon. KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.

Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar. Bahkan di dalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi. 

Pada masa-masa revolusi kemerdekaan terutama menjelang agresi militer Belanda ke-1, KHR. Asnawi mengadakan gerakan ruhani dengan membaca sholawat Nariyah dan do’a surat Al-Fiil. Tidak sedikit pemuda-pemuda yang tergabung dalam laskar-laskar bersenjata berdatangan meminta bekal ruhaniyah sebelum berangkat ke medan pertempuran melawan penjajah.

Larangan Berdasi dan Prinsip PerjuanganDalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya. 

Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.

Kemauan keras KHR. Asnawi agar Islam tetap eksis tanpa campur tangan penjajah kafir sudah menjadi pertaruhan jiwa dan raganya. KHR. Asnawi memadukan pola keulamaan dan gerakan taushiyah dengan pesan melaksanakan jihad atas pemberontakan bangsa kafir. 

Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut. 

Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).

Pada tahun 1924 M. KHR. Asnawi ditemui oleh KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang untuk bermusyawarah guna membentengi pertahanan akidah Ahlussunah wal Jamaah dan menyetujui gagasan tamu yang pernah belajar kepadanya ini. Selanjutnya, bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H./31 Januari 1926 M. KHR. Asnawi turut membidani lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Semasa hidupnya, KHR. Asnawi KH. Raden Asnawi telah berjasa besar bagi Islam dan bangsa Indonesia melalui keterlibatannya dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Selain itu, KHR. Asnawi juga menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai kalangan, seperti Semaun, H Agus Salim dan HOS. Cokroaminoto.

Syahadatain TerakhirKHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Kepulangan ulama besar Kudus ke rahmatullah ini tidak terduga. Sebab satu minggu sebelum wafatnya KHR. Asnawi masih masih nampak segar bugar ketika turut bermusyawarah dalam muktamar NU XII di Jakarta. 
Pukul 02.30 WIB Sabtu itu Asnawi bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi Asnawi dengan didampingi istrinya, Nyai Hj. Hamdanah, kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tidak berdaya. Dan dua kalimat syahadat (syahadatain/Asyhadu an laa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah) adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya kerahmatullah

Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelephon oleh HM. Zainuri Noor. (Disadur dari berbagai sumber oleh Syaifullah Amin)

Kata-kata Haji Mahbub


1 Oktober 1995, H Mahbub Djunaidi menghembuskan nafas terakhir. Enam belas tahun Mahbub meninggalkan kita, batang hidungnya tak akan pernah muncul kembali. Tapi kata-katanya masih hidup. Siapa yang hendak belajar bahasa? Mahbub salah satu rujukannya.

BAGI saya H. Mahbub Djunaidi adalah jawaranya esais. Misal ada kategori lima orang esais terbaik dalam sejarah Indonesia, saya ngotot menominasikannya sebagai salah satu. Kalau definisi mutakhir teks mengatakan sia-sia membuat pembedaan antara gaya dengan isi tulisan, Mahbub adalah contoh sempurna.
Gagasan dan kejutan yang diajukan dalam esai-esainya sulit dibayangkan bisa di tulis dalam gaya penulisan lain. Pendek kata, bagi saya Mahbub adalah penyihir kata-kata.

Sebutan penyihir boleh jadi terlalu mistik, tapi biarlah. Lalu bagaimana menjelaskan sesuatu yang mistik? Meski tentu banyak sisi positifnya, gara-gara birokrasi logika modern, sebentar-sebentar orang menuduh hal-hal tak terjelaskan secara rasional sebagai mistik. Toh, sihir punya mantra seperti pesawat terbang punya karcis. Kalau demikian adanya, macam apa mantranya Mahbub itu? Apakah hal-hal yang jadi kekuatan dalam esai-esainya?

Cara pandang terhadap realitas
Orang tentu mafhum Mahbub adalah kolumnis politik. Hampir di tiap kolom dia menulis perkara tersebut beserta aspek-aspeknya. Sekurang-kurangnya membahas dampak kebijakan pemerintah pada orang banyak. Penulis yang model begini amat banyak jumlahnya. Namun yang membedakan dengan penulis lain adalah cara Mahbub memandang persoalan politik, terutama berkaitan posisi rakyat berhadapan dengan negara.

Ia hampir selalu memulai tulisan dengan memosisikan rakyat dan negara di atas kertas, menggunakan kerangka teoretik ideal. Teorinya, negara merupakan organisasi yang dibangun demi kemaslahatan rakyatnya. Namun dalam struktur tata negara yang bagaimanapun macamnya, termasuk demokrasi, mustahil pendapat rakyat yang banyak itu diaplikasikan secara keseluruhan orang per orang. Maksimal, negara hanya bisa meratakan kesejahteraan dan menjamin kebebasan berpendapat. Karenanya, rakyat dalam beberapa hal harus mengerti jika negara yang tugasnya masya Allah banyak itu, kadang belum sanggup memuaskan mereka.
Namun posisi teoretik Mahbub ini boleh dibilang unik. Ia tak pernah mengungkapkannya dengan bahasa yang teknis. Untuk kepentingan ini digunakanlah cerita, anggapan umum, peristiwa populer, humor, atau macam-macam perabot lainnya, yang dalam hal ini perlengkapan Mahbub amat lengkap. Sama sekali tak berpretensi ilmiah.
Silakan cek esai Dinamisasi via Binatang yang ditulisnya menyambut ide Menteri Agama Mukti Ali untuk memodernisasi pesantren lewat pemberian binatang ternak. Pada awalnya Mahbub seperti mengikuti jalan pikiran Mukti Ali, bahkan terkesan menjelaskannya. Namun belakangan, ia justru bertanya, kenapa cuma pesantren yang dituding sekadar konsumen? Bukankah perilaku institusi pendidikan lainnya juga kurang-lebih demikian adanya?
Sekarang silakan teliti juga esai berjudul Demokrasi: Martabat dan Ongkosnya. Dalam esai ini akan terjelaskan bagaimana Mahbub bisa memiliki cara pandang demikian. Sumbernya tak lain keluguan. Dia menceritakan perihal rancangan kenaikan anggaran buat anggota DPR sambil menceritakan betapa logisnya alasan mereka mengusulkan hal tersebut, persis orang awam yang hanya paham perkara teknis tanpa menangkap motif lainnya. Mendadak di paragraf akhir, setelah kita diajak tamasya sambil tertawa-tawa, lewat pergeseran perspektif yang sublime, ia meledek dengan lembut, bahwa tuah hak Budget legislatif tiada gigi.
Dalam esai, aku-esai yang mewakili pengarang bercerita lewat medium bahasa, terwujud dalam cara pandang, cara mengajukan gagasan, cara ajukan pertanyaan, cara menyimpulkan, dan hal-hal lain yang bersifat unik. Sebagaimana dimaklumi dalam filsafat bahasa mutakhir, tak ada realitas di luar bahasa. Secara umum boleh dikatakan bahwa kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan jernih, akan terefleksi dalam tulisannya, dalam bahasanya. Hal yang demikian bias kita lihat pada Mahbub.
Mahbub pernah bilang, dirinya lebih senang digantungi merk sebagai sastrawan. Kenyataannya memang demikian. Tapi perkara ini di luar fakta bahwa ia pernah menulis beberapa novel. Perspektif keluguan membuatnya bisa mengeker kenyataan dengan perspektif unik, sebagaimana umumnya dipraktikkan para sastrawan. Bertebaranlah di esai-esainya, pameran hasil pengamatan yang sering bikin kita terlonjak keheranan. Ada dikatakan orang yang selalu membicarakan cuaca tak ubahnya orang Inggris. Dia menyebut perihal berisiknya orang Cina, karena empat orang yang berkumpul sanggup berbicara bersama-sama. Di lain waktu, ia menceritakan anak-anak di bulan puasa yang mulai siang tidur menelungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Satu dua ada juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.
Dengan pengamatan sekuat ini, tak heran Mahbub seperti tukang dongeng yang bisa menggubah peristiwa apa saja menjadi cerita yang mengesankan. Saya menduga kemampuan mendongeng ini diwariskan Mahbub dari khazanah tradisi Betawi yang melahirkan beberapa tukang cerite yang legendaris, seperti Zahid bin Muhammad.
Dalam khazanah sastra Indonesia, tradisi menulis dengan gaya kocak dan lugu ini bisa dilacak dalam karya-karya Idrus, sebagaimana terlihat dalam kumpulan cerita terbaiknya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Saat ini kemampuan Mahbub mendongeng barangkali hanya bisa disejajarkan dengan sastrawan Putu Wijaya. Dengan kemampuan mendongeng ini, Pak Haji Mahbub mampu menyajikan persoalan dengan ringan. Pembaca paham duduk persoalan tanpa melewati penjelasan konseptual yang bikin kepala serasa berlipat.

Pemberontakan literer
Menurut para ahli, kaum sastrawan, terutama penyair, punya kedudukan istimewa terhadap bahasa, yang dipresentasikan dalam licentia poetica. Singkatnya, dengan istilah yang konon pertama kali diajukan oleh Aristoteles ini, dimaksudkan bahwa demi mencapai tingkat estetika tertentu sastrawan boleh mengutak-atik bahasa sedemikian rupa layaknya montir mesin. Dalam hemat saya ini merupakan mantra Mahbub selanjutnya.
Mahbub sepertinya tak pernah ambil pusing apakah istilah dan kata-kata yang digunakannya masuk hitungan kebakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Makanya kita bisa capek sendiri menghitung pelanggaran EYD yang dilakukan dalam esai-esainya. Biasanya ia memakai istilah dan struktur bahasa Betawi yang di Indonesia sering dipakai dalam bahasa percakapan. Beberapa kali ia juga memakai istilah dari bahasa Jawa. Alih-alih ditegur karena kebandelannya, Goenawan Mohamad yang dikenal apik berbahasa malah memujinya sebagai penerobos bahasa. Ya, boleh jadi dalam hal ini Mahbub memang keblinger, tapi justru dari sinilah esai-esainya mencerminkan karakter yang khas. Dia menemukan sendiri capaian estetikanya.
Kebandelan Mahbub dalam berbahasa bukanlah sembarang pelanggaran. Jika ukurannya adalah pencapaian estetik, ia sanggup memenuhi tagihan sertifikat licentia poetica dengan impas, barangkali berikut bunganya. Barangkali sifat sastrawi dalam karya-karya Mahbub bukanlah yang melankolis, sensitif, mendayu-dayu sifatnya. Tapi, toh, John Steinbeck yang menulis cerita-cerita yang menyanyikan humor dan kesintingan pun akhirnya harus datang ke Stockholm, Swedia, buat menerima Nobel Sastra sambil ditepuktangani banyak orang.

Humor
Barangkali tak ada segi paling digandrungi dari esai Mahbub ketimbang humornya. Konon ada orang yang sampai kebelet kencing lantaran membaca tulisan-tulisannya. Saya sih tak ekstrem begitu. Paling-paling hanya menyebabkan durasi membaca jadi lebih lama lantaran sering diselingi cekikikan dan cekakakan. Celakanya, humor-humor Mahbub sering terbawa ingatan saat saya melakukan aktivitas lain. Boleh jadi orang yang kurang paham duduk persoalannya menganggap saya sinting atau semacamnya.
Mahbub sering menyajikan humor satir. Hal ini bisa kita simak antara lain pada Sepatu, di mana ia mengejek banyaknya koleksi sepatu Imelda Marcos. Kadang ia bercerita yang baik-baik saja perihal lembaga negara atau individu dengan demikian sempurnanya, sampai-sampai pembaca akhirnya sadar bahwa Mahbub nyata-nyata tengah mengejek dengan menyebut nilai-nilai yang justru tak dimiliki pihak bersangkutan. Hal yang demikian, misalnya muncul pada Kota.
Teknik humor Mahbub yang paling umum adalah metafora dan celetukan yang bukan alang-kepalang mengejutkannya. Silakan disimak sendiri sebagian kecil contoh berikut:
-    Futurolog itu…semacam dukun juga, tapi keluaran sekolahan
-    Anak-anak saya…patuh sepatuh-patuhnya bagaikan anak anjing ras
-    Sedangkan masuk kamar mandi saja ada risiko terpelanting, apalagi jadi bendaharawan
-    Tidak sedikit orang beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan umurnya sendiri
-    Maka dari itu, nyonya sehat bagaikan ikan bandeng
-    Yoga, melipat badan berlama-lama seperti kelelawar
-    Pemerintah mana saja tidak suka penduduknya cerewet seperti sekandang burung parkit
-    Abdurrahman Wahid…bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum…punya kebolehan humor yang mengejutkan, seakan-akan dia jambret begitu saja dari laci

Penemuan metafora-metafora yang begitu orisinal dan sublim semacam inilah yang menurut hemat saya menjadi kekuatan utama dari esai-esai Mahbub. Teknik metafor ini dipadukan dengan mantra-mantra sihir yang disebut sebelumnya, membuat esai-esainya lincah. Sering kita temukan beberapa asosiasi ditumpuk sekaligus dalam satu pernyataan.
Tak jarang demi memberi tempat buat dorongan humornya, Mahbub harus melenceng barang sebentar dari persoalan utama. Sering juga berlama-lama. Tapi memang kerapkali pada karya-karya bermutu tinggi, irisan-irisan “ketidaksempurnaan” semacam inilah yang justru membumbui estetika. Coba Saudara simak musikus-musikus hebat yang secara teoretik bakal lebih bagus lagunya didengarkan di hasil rekaman, karena celah-celahnya telah disempurnakan lewat bantuan teknologi. Tapi pendengar musik yang paham duduk persoalan bakal lebih memilih mendengarkan suara live-nya di panggung, meski lewat medium perantara.

MAHBUB, seperti yang diakui sendiri dalam sebuah esainya, adalah seorang generalis. Ia mencomot sembarang persoalan yang menarik perhatiannya buat dibahas, tanpa peduli batas-batas spesialisasi keilmuan. Bagaimana Mahbub mau bicara spesialisasi, wong sarjana saja bukan?
Ia memang unggul dalam hal menyajikan persoalan dengan sederhana melalui generalisasi yang cerdas. Tapi untuk itu kadang ia tak sempat menengok ke celah-celah persoalan, menakar barang sebentar, barangkali ada satu hal atau dua yang tak masuk dalam kategori generalisasinya. Ia juga sering membahas masalah hanya dari aspek spesifik tertentu. Dengan begini, ia tak pernah membahasnya untuk menyajikan solusi dengan tuntas, mulai ujung kepala sampai jempol kaki.
Tapi kelihatannya memang bukan pembahasan lengkap model demikian yang diinginkan Mahbub. Ia ikut berbaur dengan berbagai macam manusia, lengkap bersama pluralitas persoalannya, tanpa bermaksud menarik sebuah rumus deduktif buat setiap masalah. Tapi jangan sekali-kali menganggap Mahbub tak bisa menulis dengan gaya konvensional, artinya nirbumbu-bumbu humor di sembarang tempat, tanpa hilang kejernihan. Kalau tak percaya, sila dibaca, "Soal Pilihan".

Konon, beberapa orang berpendapat, Mahbub memilih teknik menulis demikian lantaran kondisi sosial-politik Orde Baru yang tidak memungkinkan orang mengkritik dengan keras. Maka humor jadi siasatnya untuk menyelubungi perbedaan-perbedaan pandangannya dengan pihak otoritas. Barangkali anggapan ini ada benarnya.
Tapi bagi saya sih, peduli setan! Dengan atau tanpa Orde Baru, Mahbub tetaplah Mahbub yang menyihir kita lewat kata-kata. Dan kata-kata Mahbub, masih hidup. (Ahmad MakkiKontributor Majalah Historia Online]

Pribadi Saya

 

Name : Topikin
Nama pangiilan : Taufik, Opik.
Sex : Male
Current Address : Kelurahan Ledeng Cidadap Bandung 
HP : 0852 240 1899
Agama Islam
Email : topikin.abdullah@gmail.com
Blog : topikin-abdullag.blogspot.com
Nama Orang Tua
Ayah : Abdullah
Ibu : Muripah


Riwayat Pendidikan
2010 : Menempuh Program Strata I (Sarjana) Bidang Ilmu    PemerintahanFakultas Ilmu sosial dan Politik Unit Program Belajar jarak jauh Bandung (UPBJJ) Universitas Terbuka
2008 : Menempuh Program Pendidikan Strata I (Sarjana) Universitas Pendidikan Indonesia Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Prodi Pendidikan Ekonomi
2008 : Lulus SMA Negeri 1 Haugeulis
2005 : Lulus SMP Negeri 2 Kroya
2002 : Lulus SD Negeri Jaya Mulya 1


Keinginan






Pada mulanya, saya adalah seseorang yang selalu meragukan kemampuan Tuhan untuk menjawab doa-doa yang dibacakan manusia—

Hingga pada suatu hari, beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengeluh dan memaki-maki Tuhan karena ia merasa bawa keinginan-keinginannya tak pernah didengar dan dikabulkan Tuhan. “Tuhan memang memberikan segala hal yang kita butuhkan, tapi kalau Dia benar-benar Maha Kuasa, sesekali Dia juga harus mengabulkan apa yang kita inginkan, donk!” Umpatnya. 

Saya bisa memahami kemarahannya. Teman saya ini, seorang pria baik yang taat beribadah, namun seringkali tak begitu beruntung dalam hidupnya—

Tuhan tahu bahwa Apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita.” Demikian respon saya. Jujur, saya tak punya jawaban lain selain kalimat klise semacam itu. Padahal, dalam hati, saya juga bertanya-tanya: Bukankah Tuhan sudah berjanji akan mengabulkan apa yang kita mintakan kepada-Nya? 

Aku akan memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginanku,” katanya. 

Memaksa?” Saya mengonfirmasi pernyataan teman saya itu.

Ia mengangguk penuh keyakinan. “Kalau tak bisa diminta secara baik-baik, aku akan memaksanya!

Tentu saja saya tak pernah menduga teman saya yang baik dan salih ini akan mengeluarkan pernyataan sedemikian keras tentang Tuhan. Tetapi, sekali lagi, saya bisa memakluminya: Kekurangan-kekurangan dalam hidupnya, penderitaan dan perjuangan panjangnya, kekhusyukan ibadah dan doa-doa khidmatnya, bagi saya, sudah memberinya cukup alasan untuk “menagih” sesuatu pada Tuhan.

Bagaimana caranya memaksa Tuhan?” Saya tak bisa menduga apapun yang akan teman saya lakukan untuk memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginannya.  

Aku akan memintamu mendoakanku, seperti akan kuminta puluhan orang lain mendoakanku.

Saya terdiam. Teman saya melanjutkan—

Bersama puluhan orang itu, aku akan mengarak doaku untuk menggetarkan langit dan memaksa para malaikat untuk membuka pintu Arasy. Di sanalah para malaikat akan melihat gumpalan-gumpalan doa kita berubah menjelma gelombang cahaya yang demikian besar sehingga membuat mereka silau dan gemetar—Sehingga tatkala gelombang itu sampai tepat di hadapan mereka, mereka tak punya pilihan lain selain membukakan pintu langit dan mengantarkannya ke hadapan Tuhan. Dan Tuhan Yang Maha Mengabulkan Semua Doa yang Sampai di HadapanNya, tak bisa lagi menolaknya!

Saya tercengang. Apa yang baru saja teman saya katakan benar-benar tak pernah saya bayangkan sebelumnya: Kurang ajar, tapi keren! 

Dengan penuh keyakinan,” saya mengucapkan kalimat itu dengan perasaan yang gemetar, “Aku akan mendoakan apapun yang terbaik untukmu.

***

Beberapa minggu setelah percakapan itu, setelah ia mendatangi orang kelima puluh tiga yang ia mintai doa, secara ajaib Tuhan mengabulkan keinginannya untuk melanjutkan kuliah—

Pamanku,” demikian teman saya mulai bercerita, “Ketika aku datang padanya untuk meminta didoakan agar bisa melanjutkan kuliah, menelepon salah satu temannya. Di hadapanku, Paman bicara tentang hal-hal yang tak sepenuhnya aku mengerti. Tetapi ketika ia menutup telepon dan tersenyum, ia mengatakan bahwa aku bisa melanjutkan pendidikanku dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang dikelola temannya: Gratis! Dan paman akan menanggung semua biaya hidupku selama kuliah!

***

Sejak saat itu, saya mendapatkan keyakinan baru tentang doa. Seketika saya berubah menjadi seseorang yang menitipkan harapan dan keinginan-keinginan saya pada doa-doa. Dan kapanpun saya merasa ragu bahwa doa saya bisa dikabulkan, karena saya tahu saya bukan seorang yang baik apalagi salih, saya akan meminta bantuan siapapun untuk turut mendoakan saya. 

Mungkin saya tak hendak memaksa Tuhan dengan meminta orang lain mendoakan saya. Tidak seperti teman saya tadi, saya bukan orang baik yang berhak melakukan itu. Tapi saya memercayai keyakinan teman saya: Langit tak akan sanggup menangkal doa yang diantarkan 40 orang kepadanya. Doa itu akan sampai di hadapan Tuhan, dan hanya soal waktu untuk menunggunya dikabulkan. 

Itulah sebabnya, jika mengharapkan sesuatu terjadi dalam hidup saya, keinginan-keinginan yang saya pikir tak mungkin bisa saya wujudkan tanpa campur tangan Tuhan, saya akan meminta orang lain di sekeliling saya untuk turut mendoakan saya. Dari sekian banyak orang yang saya minta doanya—orangtua, kerabat, teman, sahabat—saya tak pernah benar-benar tahu doa siapa sebenarnya yang akan dikabulkan. Tetapi biarkanlah doa-doa itu bergerak, mengarak dirinya sendiri, menggedor pintu langit dan menemui Tuhan Yang Maha Mengabulkan Doa-doa.

***

Kini, saya memiliki sebuah doa yang benar-benar saya inginkan Tuhan mengabulkannya. Saya datangi orang tua saya, kerabat-kerabat saya, sahabat-sahabat saya, teman-teman saya, untuk meminta mereka mendoakan saya. Dan melalui tulisan ini, saya mendatangi kalian untuk membantu saya: Doakan apa saya yang baik untuk saya, maka saya pun dengan senang hati selalu mendoakan segala yang baik untuk kalian. 

Semoga Tuhan mengabulkannya. :)

Iman


Semasa kecil, saya punya keyakinan bahwa Tuhan bekerja saat kita tidur—terutama di malam hari. Dia menyembuhkan luka, melepaskan kelelahan dari tubuh kita, dan melakukan hal-hal ajaib lainnya yang tak dapat dilihat manusia ketika mereka terjaga. Saya percaya bahwa pada malam hari, Tuhanlah yang melunakkan hati Goris yang sedang marah pada saya: Karena keeseokan harinya kami bermain dan bercanda kembali seolah-olah pertegkaran sehari sebelumnya tak penah terjadi. 

Tuhan adalah hal paling ajaib dalam hidup saya, meski tak pernah benar-benar terjelaskan: Saya memercayainya. 

Setiap malam tiba, saat ibu menyuruh saya berdoa sebelum tidur, saya tak tahu arti doa itu, tapi saya percaya bahwa doa itu bisa mempermudah kerja Tuhan untuk melakukan hal-hal baik dan menakjubkan untuk saya, orang tua saya, keluarga saya, semua orang dan dunia. Tuhan selalu bekerja dalam keserbamungkinan yang ajaib dan mencengangkan. Misalnya saat saya berdoa agar kakek cepat sembuh dari sakitnya, dua hari berikutnya Tuhan mengirimkan kakek untuk mengetuk pintu rumah saya dan mengajak saya jalan-jalan. Bagaimana Tuhan melakukannya? Saya tidak pernah benar-benar tahu—mungkin karena Dia melakukannya saat saya sedang tidur.

Itulah sebabnya, bertahun-tahun, setiap pagi ketika saya terbangun dari tidur, saya selalu menjadi anak yang ceria dan tanpa beban: Saya percaya Tuhan telah melakukan tugasNya tadi malam, dan saya tak perlu khawatir tentang apa-apa lagi. 

***

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mengetahui: Ternyata Tuhan tidak hanya bekerja di malam hari. Dia bekerja saat kita terlelap maupun terjaga. Demikianlah, Tuhan selalu ada, tersedia, dan Maha Kuasa. 

Tapi, saya tetap berdoa sebelum tidur...  

Saya menceritakan masalah-masalah saya dengan keyakinan bahwa Dia selalu mendengarkan dan akan menyelesaikan semuanya ketika saya tertidur. Saya yakin, Tuhan tak akan mengkhianati iman masa kecil saya: Buktinya, selama ini Dia selalu ada untuk saya, setia menyayangi saya, menghapus kesedihan-kesedihan saya.

Kini, setiap kali saya terjaga dari tidur saya di malam hari, saya berusaha mengingat semua kebaikanNya untuk saya selama ini, lalu berdoa dengan cara yang sangat sederhana:  
Tuhan, Engkau Maha Tahu Segalanya. 
Selamat bekerja. 
Amin.
... Dan saya pun tidur kembali. Dengan penuh ketenangan. fahdisme