Bogor Jawa Barat

Institute Pertanian Bogor.

Universitas Negeri Yogyakarta

Fakultas Tekhnik.

SMECDA

Kementrian Koperasi dan UKM Jakarta.

BPU UPI

Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Minggu, 01 Juli 2012

Apakah Segmentasi Itu?


Segmentasi adalah proses membagi pasar ke dalam grup-grup konsumen potensial dimana masing-masing grup memiliki karakter yang sama dan cenderung memiliki perilaku pembelian yang sama. Tujuan dari melakukan segmentasi adalah untuk menganalisa pasar, menemukan ceruk-ceruk (niche) pasar dan agar dapat mengembangkan kompetisi perusahaan.

Kesuksesan sebuah strategi pemasaran tidak bisa lepas dari cara memahami dan mendalami pasar yang kita sasar. Ada produk yang mencoba menembak satu jenis pasar yang homogen, tetapi ada produk yang menembak beberapa jenis pasar. Kenyataannya memang tidak semua elemen dalam marketing mix dapat memenuhi setiap jenis pasar. Oleh karena itu sangatlah penting bagi perusahaan untuk memilah-milah terlebih dahulu pasar mereka sebelum menjalankan strategi pemasaran. Dengan mengidentifikasi, mengevaluasi dan akhirnya memilih target pasar tertentu, perusahaan dapat menjalankan strategi pemasaran dengan lebih efisien dan efektif.
Segmentasi didefinisikan secara sederhana sebagai proses membagi sebuah pasar menjadi kelompok-kelompok lebih kecil, dimana setiap kelompoknya memiliki sifat-sifat yang relatif seragam (homogen). Istilah segmentasi biasanya langsung dikaitkan dengan istilah targeting, yakni upaya untuk memilih segmen-segmen spesifik yang paling berpotensi untuk membeli produk kita.
Salah satu cerita legendaris yang terkait dengan segmentasi adalah bagaimana Henry Ford membuat sebuah mobil yang disebut sebagai model T. Henry Ford dengan sombongnya memproduksi semua model T dengan warna hitam. “the car is car as long it is black”, katanya. Sebaliknya Alfred Sloan dari General Motors mencoba membangun model yang spesifik untuk setiap kelompok konsumen. Hasil akhirnya, strategi yang dilakukan oleh General Motors membuat perusahaan ini menggantikan Ford sebagai pemimpin pasar otomotif di Amerika Serikat.
Cerita ini menggambarkan bagaimana upaya menyamaratakan semua orang ternyata tidak berhasil. Setiap orang pasti memiliki perbedaan dalam hal selera, kebutuhan, pilihan dan lain-lain. Oleh karena itu mengelompokkan konsumen berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut sangat penting dilakukan sebelum aktifitas marketing mix dijalankan.

Personal Branding

Sebenarnya personal branding lebih mudah dilakukan daripada company branding. Mengapa? Karena untuk personal branding, Anda hanya perlu yakin pada talenta, kemampuan dan keahlian sendiri saja. Lebih mudah untuk menjual apa yang sudah Anda kenal dan percaya. Image diri Anda pun sudah tercipta, dan kini hanya perlu dipasarkan saja. Anda tentu harus mempunyai keahlian di bidang tertentu untuk dapat mempunyai suatu image yang khas.
Jika melihat contoh Madonna, ia sendiri sudah menjadi brand tersendiri. Sejak awal karirnya, ia sudah mempunyai kemampuan untuk maju secara konsisten dalam bidangnya. Hal ini membuatnya mampu menonjol di antara penyanyi lain.
Dengan personal branding secara efektif, Anda akan mampu menjadi ahli dalam bidang tertentu, membangun reputasi solid dalam industri tertentu, serta meningkatkan reputasi dan nama baik di pasaran. Tujuan personal branding adalah supaya bisa mempunyai identitas atau image yang menonjol dan berbeda dari yang lain. Setelah Anda fokus dan mampu menyampaikan pesan tentang siapa diri Anda, langkah terakhir adalah menyebarkan semua itu dengan menggunakan media-media yang cocok atau yang digunakan oleh audiens Anda.
Saatnya untuk menyebarkan image dan brand Anda sendiri.
Sumber:

Apakah Sejatinya sebuah Merek itu?

Dunia industri terus berkembang dinamis dan persaingan yang begitu ketat semakin meningkatkan kesadaran para pelaku bisnis akan pentingnya sebuah merek. Bahkan karena pertimbangan merek pula yang menyebabkan Salim Group (holding company terbesar di Indonesia) berani membeli merek Bimoli senilai Rp. 25 Miliar dari Sinar Mas. Salim Group juga memborong beberapa merek yang dianggap memiliki ekuitas tinggi seperti kopi Tugu Luwak dan kecap Piring Lombok.
Merek merupakan asset sangat bernilai yang disebut goodwill dan terpampang di neraca. Merek pulalah yang akan memberikan revenue dimasa mendatang.
Namun apakah sejatinya sebuah merek itu ?
Pengertian merek menurut David A.Aaker adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu. Dengan demikian suatu merek membedakannya dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh kompetitor. Sedangkan menurut William J. Stanton merek adalah nama, istilah, simbol atau desain khusus atau beberapa kombinasi unsur ¬unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual. Dengan demikian, dapat disimpulkai bahwa merek mempunyai dua unsur, yaitu Brand name yang terdiri dari huruf-huruf atau kata¬ kata yang dapat terbaca, serta Brand mark yang berbentuk symbol.Merek mengandung janji perusahaan untuk secara konsisten memberikan ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek lebih dari sekadar jaminan kualitas karena di dalamnya tercakup enam pengertian berikut ini.

  1. Atribut produk, seperti halnya kualitas, gengsi, nilai jual kembali desain, dan lain-lain. Mercedes menyatakan sesuatu mahal, produk yang dibuat dengan baik, terancang baik, tahan lama, bergengsi tinggi, dan sebagainya.
  2. Manfaat. Meskipun suatu merek membawa sejumlah atribut konsumen sebenarnya membeli manfaat dari produk tersebut. Dalam hal ini atribut merek diperlukan untuk diterjemahkan menjadi manfaat fungsional atau manfaat emosional. Sebagai gambaran, atribut “mahal” cenderung diterjemahkan sebagai manfaat emosional, sehingga orang yang mengendarai mercedes akan merasa dirinya dianggap penting dan dihargai.
  3. Nilai. Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Mercedes menyatakan produk yang berkinerja tinggi, aman, bergengsi, dan sebagainya. Dengan demikian produsen Mer¬cedes juga mendapat nilai tinggi di mata masyarakat.
  4. Budaya. Merek juga mencerminkan budaya tertentu. Mercedes mencerminkan budaya Jerman yang terorganisir, konsisten, tingkat keseriusannya tinggi, efisien, dan berkualitas tinggi.
  5. Kepribadian. Merek juga mencerminkan kepribadian tertentu. Sering kali produk tertentu menggunakan kepribadian orang yang terkenal untuk mendongkrak atau menopang merek produknya.
  6. Pemakai. Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Pemakai Mercedes pada umumnya diasosikan dengan orang kaya, kalangan manajer puncak, dan sebagainya. Pemakai Dimension Kiddies tentunya adalah anak-anak.
Jadi, Merek adalah nama, terminologi, tanda, simbul atau desain atau kombinasi diantaranya, yang ditujukan untuk mendidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk mebedakannya dari pesaing. Beberapa bagian merek antara lain adalah nama merek, tanda merek, merek dagang, dan copyright. Nama merek adalah bagian dari merek dimana bagian dari merek yang dapat disebutkan atau dieja. Tanda merek adalah bagian dari merek yang tidak dapat dieja atau disebutkan, seperti simbol, desain atau warna atau huruf yang berbeda. Merek dagang adalah merek atau bagian merek yang diberikan untuk melindungi secara hukum-yaitu melindungi penjual untuk menggunakan hak eksklusif untuk menggunakan nama merek atau tanda merek. Copyright adalah hak hukum eksklusif yang diberikan untuk menggandakan, mempublikasikan, dan menjual segala sesuatu yang berbentuk buku, musik atau karya artistik. (Sumber: http://frommarketing.blogspot.com)

Mengubah Model Bisnis dengan Major Innovation

Semua ide, kreativitas, dan imajinasi ujung-ujungnya mengarah kepada inovasi. Karenanya, seorang pemasar jenius tidak bisa lepas dari inovasi. Namun seperti apakah inovasi yang tergolong jenius itu?
Peter Fisk mendefinisikan inovasi secara sederhana sebagai “berpikir apa yang orang lain tidak pikirkan”. Tapi penjabaran definisi ini justru menjadi rumit. Itulah sebabnya tidak semua orang bisa berinovasi dengan baik. Menurut Fisk, pemasaran harus melakukan inovasi pasar tidak hanya pada tingkat strategis tetapi juga taktis. Inovasi juga menciptakan konteks yang tepat, sikap yang tepat, infrastruktur yang tepat, dan nafsu yang tepat untuk meyakinkan bahwa ide tersebut merupakan ide terbaik untuk mencapai sukses secara kompetitif maupun komersial.

Hermawan Kartajaya sendiri dalam acara the MarkPlus Conference, yang diadakan pertengahan Desember lalu, melihat bahwa inovasi pada zaman sekarang bukan pada dataran strategi segmentasi, namun sudah harus lebih luas dari itu. Hermawan membagi inovasi dalam tiga tingkatan. Pertama adalah minor innovation. Inovasi pada dataran ini dilakukan lebih kepada peninjauan ulang segmentasi pasar, mengubah cara menjual, dan merekayasa ulang proses bisnis. Namun inovasi seperti ini tidak dibarengi oleh usaha menciptakan bauran pemasaran baru. Yang dilakukan hanyalah untuk tampil lebih smartdaripada pesaing, tanpa memedulikan interaksi konsumen secara langsung.

Tingkatan kedua adalah moderate innovation. Pada tingkatan ini, pemasar sudah berani memfokus ulang target pasar, membuat bauran pemasaran baru secara kreatif lewat inovasi di produk, harga, saluran distribusi dan promosi, serta dibarengi dengan pembaharuan service. Pada tingkatan ini, menurut Hermawan, pemasar tidak hanya berhasil mengungguli pesaing namun dapat merangkul pelanggan baru.

Namun yang paling membutuhkan nyali adalah melakukan inovasi sampai ke tingkat major. Pada level ini, pemasar harus berani berinovasi total dengan cara meninjau ulang positioning, keunikan dan merek di pasar. Proses ini yang disebut Hermawan sebagai repositioning, redifferentiating dan rebranding. Ia meyakini, jika pemasar sanggup melakukan itu berarti pemasar tersebut berani melakukan gebrakan dengan tujuan bukan hanya untuk mentransformasikan merek, tetapi juga merestrukturisasi industri untuk menjadi lebih baik.

Peter Fisk juga setuju bahwa inovasi harus lebih luas dari sekadar produk, namun juga dalam konteks yang luas. Menurut Fisk inovasi juga harus berpikir konsep customer experience, dan bahkan inovasi pada keseluruhan model bisnis di mana perusahaan dan pelanggan memperoleh value. Dell adalah contoh menarik yang dikemukakan Fisk. Dell mengubah pola bisnis orang dalam membeli PC, di mana Anda (pembeli) dapat memilih spesifikasi komputer yang disukai dan kemudian hasil rakitannya dikirimkan ke rumah Anda. Dell tidak berinovasi dalam produk, tetapi berinovasi dengan mengubah model bisnis.

Seorang pemasar yang jenius, ungkap Fisk, memang harus mampu berinovasi dengan model bisnis baru. Karena itulah, inovasi yang tepat menghasilkan gangguan pada aturan dan logika yang sudah ada. Inovasi bahkan seperti sebuah olahraga yang ekstrim di mana hal-hal yang sekarang tidak dapat terima. Fisk mengandaikan hal ekstrim ini seperti membuat rem tangan untuk pesawat ruang angkasa.

Tentu saja, semua inovasi awalnya harus dimulai dengan ide dan kebutuhan. Inovasi tanpa adanya kebutuhan tak akan berarti. Oleh sebab itu, mengenali pelanggan dan konsumen kita dengan baik sangat penting. Seorang pemasar jenius selalu meletakkan diri pada pelanggan. Dia benar-benar berdiri di atas kepentingan pelanggan, berbicara kepada pelanggan, mengerti pelanggan dan memberi solusi kepada pelanggan.
suber : marketing.co.id

Equitas Merk



Beberapa peneliti mempunyai pendapat yang berbeda-beda dalam mengklasifikasikan indikator atau dimensi yang terdapat dalam ekuitas merek.
Keller (2003) menyebutkan pengetahuan merek (brand knowledge) yang terdiri atas kesadaran merek (brand awareness) dan citra merek (brand image) sebagai indikator dari ekuitas merek.
Shocker dan Weitz (1988, dalam Gil et al 2007))mengklasifikasikan dimensi ekuitas merek menjadi dua, yaitu citra merek (brand image) dan loyalitas merek (brand loyalty).
Agarwal dan Rao (1996, dalam Gil et al 2007)) mengemukakan dua indikator utama pada ekuitas merek yaitu kualitas keseluruhan (overall quality) dan minat memilih (choice intention).
Namun, yang paling umum digunakan adalah pendapat Aaker (1996), yaitu bahwa terdapat lima indikator atau dimensi utama pada ekuitas merek. Kelima indikator tersebut adalah kesadaran merek (brand awareness), asosiasi merek (brand associations), perceived quality, loyalitas merek (brand loyalty) dan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (other brand-related assets).
Pada prakteknya, hanya empat dari kelima indikator tersebut yang digunakan pada penelitian-penelitian mengenai consumer-based brand equity, yaitu kesadaran merek, asosiasi merek,perceived quality dan loyalitas merek. Hal ini dikarenakan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (seperti hak paten dan saluran distribusi), tidak berhubungan secara langsung dengan konsumen. (wfz)
Baca juga:
Gil, R.B., AndrĂ©s, E.F. and Salinas, E.M. (2007), “Family as a Source of Consumer-based Brand Equity”, Journal of Product & Brand Management, Vol. 16 No. 3, pp. 188-199.
Aaker, D.A. (1996), “Measuring Brand Equity Across Product and Market”, California Management Review, Vol. 38 No. 3, pp. 102-121.
marketing.co.id

Mengapa Harus Rebranding ?

Rebranding merupakan upaya yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga untuk mengubah total atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik, dengan tidak mengabaikan tujuan awal perusahaan, yaitu berorientasi profit.
rebranding process
Rebranding sebagai sebuah perubahan merek, seringkali identik dengan perubahan logo ataupun lambang sebuah merek. Dengan kata lain, ketika melakukan rebranding maka yang berubah ialah nilai-nilai dalam merek itu sendiri.
Pada umumnya sebuah perusahaan melakukan rebranding karena beberapa alasan:
1. Alasan finansial, perusahaan secara finansial melakukan reorganisasi dan sebuah identitas baru diperlukan untuk hal itu.
2. Adanya manajemen/kepemimpinan baru, untuk mengiringi awal kepemimpinannya, mereka ingin “tanda atau simbolnya” sendiri di perusahaan yang dipimpinnya.
3. Analisa prospektif pasar, setelah sekian tahun perusahaan perlu menegaskan kembali targetnya dan merencanakan mengubah positioningnya pada area yang baru, sehingga perlu citra yang baru pula untuk merefleksikan hal tersebut.
4. Merger, beberapa perusahaan bergabung menjadi satu perusahaan yang baru dengan nama baru.

Ada beberapa alasan lain dilakukannya rebranding dalam sebuah perusahaan yaitu:
1. Identitas dari perusahaan tersebut tidak dapat mewakili pelayanan dari perusahaan tersebut.
2. Perusahaan tersebut sudah memiliki reputasi yang buruk di mata masyarakat.
3. Perusahaan tersebut ingin memberikan sesuatu yang baru, berupa pembenahan dalam perusahaan.

Rebranding memakan waktu yang lama karena harus mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal.
Faktor internal misalnya, perusahaan harus mempertimbangkan secara matang apakah perubahan ini membawa pengaruh yang besar bagi karyawannya dalam menjalankan tugasnya, karena karyawan harus memperkenalkan kembali logo baru tersebut ke masyarakat. Dalam melakukan rebranding perusahaan sedikit banyak harus mendapat kesempatan bersama dari para karyawannya.
Faktor eksternal ialah masyarakat dan stakeholder. Perusahaan harus mempertimbangkan juga apakah dengan perubahan brand, masyarakat memahami maksud dan tujuan yang hendak dicapai perusahaan.
Untuk menciptakan brand sebuah perusahaan tidaklah mudah. Ada dua komponen penting yang perlu dipertimbangkan, yakni tampilan dan bahasa.
Tampilan berhubungan dengan logo bisnis atau produk. Sebuah logo yang efektif seharusnya :
- Unik dan menarik bagi target market.
- Mampu menggambarkan sifat alami bisnis, produk, atau servis. Hal ini dapat ditafsirkan dengan dua cara yaitu literal dan abstrak.
- Tidak mudah usang/ketinggalan jaman karena pergantian waktu (tahan lama).
- Dapat diterapkan dalam semua konteks potensi komunikasi.
Aspek yang sama pentingnya dalam membuat brand ialah bahasanya atau cara mengungkapkannya. Hal ini sering dijelaskan sebagai tagline atau cara memposisikan pernyataan. Hal ini digunakan untuk meyakinkan konsistensi dan kelanjutan dari kedua hal yaitu penampilan dan bahasa menggambarkan perusahaan yang sekarang kepada pelanggan.
Contoh perusahaan BUMN yang pernah melakukan rebranding antara lain Bank Mandiri, BNI, Indosat, Pertamina, Pegadaian, Pos Indonesia, Bulog dan Garuda Indonesia. Sementara perusahaan swasta yang melakukan rebranding antara lain BII, Danamon dan Garudafood.
(wf/berbagai sumber)

Dasar Branding


Pernahkah bertanya mengapa bisnis kompetitor lebih mendapat perhatian daripada Anda? Jawabannya kemungkinan besar berhubungan dengan elemen-elemen yang menentukan seberapa memorable bisnis Anda di benak pelanggan. Inilah inti dari branding.
Tapi apa sebenarnya branding itu? Branding berguna untuk menanamkan image perusahaan ke dalam benak pelanggan. Apa yang dipikirkan pelanggan tentang perusahaan Anda adalah tujuan dari branding. Branding yang baik mampu membedakan produk dan jasa kita secara positif dibanding dengan pihak lain dalam benak pelanggan.
Misalnya pada waktu kita siap untuk berbelanja rutin pada hari Sabtu pagi, memikirkan belanjaan apa saja yang perlu dibeli, dry cleaning yang perlu diambil, dan paket yang perlu dikirimkan ke kantor pos sebelum menjelang siang. Perjalanan ke kantor pos mengingatkan kita bahwa ternyata besok adalah ulang tahun ibu. Jadi kita perlu membeli kartu ucapan selamat secepatnya. Tanpa ragu-ragu, kita sudah tahu persis dimana akan membeli kartu ucapan, yaitu di Toko Hallmark yang terletak tak jauh dari supermarket.
Sekarang pertanyaannya, mengapa tiba-tiba bisa terpikir Hallmark? Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu adalah hasil dari segala upaya branding yang dilakukan Hallmark dengan dua elemen inti branding, yaitu:
  • Logo: Desain logo yang menarik, mudah dibaca, dan mudah diingat.
  • Tag line atau slogan yang bagus.
Kita asumsikan produk Anda sendiri sudah bagus dan bermutu, kini semuanya tergantung image. Desain grafis memainkan peran penting untuk menciptakan image tersebut. Tapi apa saja faktor-faktor kunci yang perlu diperhatikan?
Pada artikel berikut kita akan membahas kedua elemen dalam branding, yaitu logo dan tag line.
Sumber: